Tia-Dhea-Ray

Tia-Dhea-Ray

Selasa, 19 Mei 2009

TRI TUGAS GEREJA


VISI DAN PANGGILAN GEREJA

(Bahan pembinaan untuk GMIST "IKHTUS" Pos pelayanan Batam)

Tanggal 24 Mei 2009.


Gereja sebagaimana kita kenal apakah dalam situasi nasional atau di persekutuan Kristen setempat terkadang sulit untuk kita dapat melihat persamaannya dengan citra Kristus, tetapi kendatipun banyak kelemahan gereja dipersiapkan untuk menjadi agung dan indah dalam setiap kesaksian dan palayanannya. Itu berarti ada komitmen orang percaya untuk sungguh-sungguh kepada persekutuan dan ada kesediaan untuk ikut menanggung penderitaan demi Injil dan demi pertumbuhan gereja itu sendiri.
Visi itu akan menguatkan tekad kita untuk memberikan waktu dan milik kita, untuk mengarahkan daya dan doa, dan untuk berkarya sepanjang waktu yang Tuhan berikan. Untuk itu kita pun harus memahami ketika hendak mencapai visi itu gereja pun harus nampak dalam panggilannya. Ada 3 tugas panggilan gereja yang disebut dengan tri tugas gereja.

Untuk memahami tri tugas gereja kita mulai dengan pemahaman gereja.

Latar Belakang dan pengertian
Kata gereja berasal dari bahasa Portugis “Igreya” dan dalam bahasa Yunani “Ekklesia” yang berarti jemaat yang dipanggil keluar dari dunia dan menjadi milik Tuhan.
Pegertian gereja secara thelogis Alkitabiah ialah bahwa gereja (ekklesia) itu adalah tubuh Kristus (Ef 1:22-23) dimana Kristus adalah kepala.
Gereja bukanlah kelompok manusia yang berdiri atas inisiatif sendiri,tetapi Kristuslah yang dengan perantara Firman dan Roh mengumpulkan bagiNya jemaat itu. Gereja adalah persekutuan orang percaya yang di kumpulkan oleh Kristus. Hari Pentakosta ketika Roh Kudus di curahkan menjadi hari lahirnya gereja (Kis 2).

Tugas dan Panggilan gereja
Gereja yang hidup adalah gereja yang bersaksi tentang Yesus Kristus di dunia ini (band Kis 1: 8). Gereja terpanggil untuk melaksanakan amanat agung Kristus (Mat 28:16-20; Markus 16:15).
Menjadi saksi Kristus adalah tugas gereja dan warganya yang berlaku sepanjang masa dan bukan hanya bersaksi (Marturia), tapi juga bersekutu (Koinonia) dan melayani (Diakonia). Inilah yang disebut tri tugas gereja. Gereja terpanggil untuk memberitakan berita kesukaan dari Allah bagi semua orang agar percaya dan diselamatkan.
Gereja harus terbuka, dinamis,dialogis pada situasi perkembangan di masyarakat dengan sikap positif,kristis,kreatif dan realistis.
Gereja kelihatan sebagai gereja apabila gereja tersebut nampak sebagai satu segitiga sama sisi yang terdiri dari segi persekutuan,kesaksian dan pelayanan yang ketiganya tidak dapat dipisahkan.



Koinonia (bersekutu)
Koinonia berasal dari bahasa Yunani “Koinon” yaitu :
Koinonein artinya bersekutu
Koinonos artinya teman,sekutu
Koinonia artinya persekutuan.
Kata :koinonia’ baik dalam Alkitab, maupun dalam masyarakat Yunani pada waktu itu tidak terbatas pada salah satu pengertian saja, melainkan mempunyai arti yang luas sesuai dengan keadaan yang berlaku pada waktu itu dan situasi tertentu. Dalam masyarakat Yunani kata koinonia seringkali dipakai untuk mengambarkan hubungan manusia dengan ilah-ilah. Hubungan itu dibayangkan sebagai hubungan antar teman (koinonos). Koinonein berarti bergaul secara akrab dengan ilah-ilah, supaya mencapai hubungan mistik yang membawa kepada kebahagiaan yang hebat.
Itulah sebabnya dalam Septuaginta (Perjanjian Lama yang diterjemahkan dari bahasa Ibrani ke dalam bahasa Yuniani) kata koinonia tidak pernah mengambarkan hubungan antara Allah dengan manusia. Didalam PL kata hamba (Ibr :ebed) dipakai,bukan teman untuk menggambarkan hubungan Allah dengan manusia. Manusia adalah hamba Allah. Allah sebagai khalik dan manusia sebagai mahluk.
Namun dalam Perjanjian Baru ada perubahan : karena melalui Yesus Kristus manusia dapat dipersatukan kembali dengan Allah. Dalam Kristus Allah datang dan menemui manusia.
Dalam PB kata “Koinonia” ,mempunyai beberapa pengertian :
A.1. Mengambil bagian bersama-sama dengan orang lain dalam sesuatu.
Lukas 5 :10 : waktu Tuhan Yesus menyuruh murid-murid menjala ikan, mka mereka melaksanakan perintah Tuhan. Mereka mendapat banyak ikan. Karena bayaknya mereka semua harus mengambil bagian dalam hal menarik jala. Disini koinonia sebagai persekutuan para pekerja
Dalam I Kor 10:16 – arti persekutuan (koinonia) adalah mengambil bagian dalam penderitaan dan kematian Yesus Kristus didalam persekutuan Perjamuan Kudus.
A.2 memberi bagian kepada seseorang
Sebagai contoh untuk memahami kononia dalam lingkup ini, Filipi 4:15 (baca) kata “mengadakan perhitungan” adalah terjemahan dari kata koinonein dalam arti memberi bagian. Paulus memberi jemaat filipi bagian dalam mengabarkan Injil,sedangkan jemaat Filipi tanpa diminta memberi Paulus bagian untuk penghidupannya. Itulah salah satu segi dari persektuan yaitu Saling memberi bagian kepada orang lain.
A.3 Koinonia sebagai Persekutuan penuh (absolut)
Dalam Galatia 2:9, digambarkan bahwa paulus dan Bernabas dengan berjabatan tangan sebagai tanda persekutuan diterima secara penuh dalam persekutuan yang dijadikan oleh iman bersama kepada Kristus. Tanda hubungan erat antara kedua belah pihak, bahwa mereka bersekutu dalam Kristus.

Jadi koinonia (persekutuan) mempunyai dasar dan tujuan yang berasal dari Yesus Kristus. Dasar dan tujuan ini tidak dapat diganti dengan dasar dan tujuan yang lain.jikalau persekutuan ini menganti dasar, yang sudah diletakkan oleh dan di dalam Yesus Kristus maka persekutuan ini kehilangan hakekatnya dan secara azasi bukan persekutuan (koinonia) lagi. Koinonia adalah persekutuan jemaat di dalam Kristus, walaupun banyak anggota namun membentuk satu tubuh Kristus. Di dalam Koinonia ini kita tidak hanya sekedar bersekutu, tetapi kita mengambarkan Injil Kerajaan Allah melalui perkataan / kesaksian (Marturia) maupun perbuatan /pelayanan (Diakonia) dimana saja kita berada.


Marturia
Berasal dari bahasa Yunani : Marturia = kesaksian
Marturein = bersaksi
Marturein dalam Perjanjian Baru memberi arti antara lain:
1.memberi kesaksian tentang fakta atau kebenaran (Lukas 24:48 : Matius 23:31)
2. memberi kesaksian baik tentang seseorang (Lukas 4:22; Ibr 2:4)
3. membawakan khotbah untuk pekabaran Injil (Kis 23:11) disini bersaksi sebagai istilah pengutusan/pekabaran Injil.

Kita yang hidup sekarang ini memang bukanlah saksi mata dari karya penyelamatan Yesus Kristus, tetapi kitalah saksi keyakinan, sehingga kehidupan kitapun harus diwarnai dengan keyakinan itu. Dalam bentuk khotbah kita bisa memberi kesaksian tetapi lebih dari itu kehidupan kita adalah khotbah yang hidup.
Allah mengutus anakNya Yesus Kristus, Kristus pun mengutus murid-muridNya kedalam dunia (Yoh 20:21), supaya kabar keselamatan (Injil) diproklamirkan. Tugas ini diberikan Allah kepada setiap orang yang percaya dengan karunia masing-masing, agar dapat diwujudkan dalam perkataan dan perbuatan.

Diakonia (Pelayanan)
Berasal dari bahasa Yunani : Kata kerja Diakonein = melayani
Kata benda Diakonia = pelayanan
Kata benda Diakonos = pelayan

B.1 Diakonein (melayani) dalam Perjanjian Baru
Pandangan Yesus terhadap pelayanan berasal dari titah di dalam PL tentang kasih terhadap sesama manusia.
Diakonein artinya : melayani di meja (selewir)
Dalam PB diakonein mempunyai arti sebenarnya melayani di meja (Lukas 17:8; Yoh 12:2). Disekitar meja sangat terasa perbedaan tingkat antara mereka yang sementara makan yaitu “orang besar” dan mereka yang menanggalkan jubahnya atau orang yang melayani meja. Yesus merubah secara total arti melayani, karena Dia membalikkan hubungan antara melayani dan dilayani (Lukas 22:26-30). Diantara murid-muridNya yang memimpin adalah Yesus yang juga adalah diakonos (pelayan).
Arti kata diakonein sebagai melayani meja diperluas juga dengan pemahaman mengumpulkan bahan makanan, menyiapkan makanan (Kis 6:2).
Diakonein artinya :memperhambakan diri/ mengabdi
Disini artinya diperluas, Yesus menyebut dalam Matius 25:42-44 pelbagai perbuatan seperti memberi makan, minum,memberi penginapan,memberi pakaian, mengunjungi orang sakit dan orang yang berada di penjara, itu diakonein. Diakonein =pelayanan ini adalah maksud dan tujuan orang Kristen terhadap sesama manusia, sekaligus juga menggambarkan bagaimana caranya mengikut Kristus. Dari pandangan yang dasariah ini Yesus menyimpulkan sehubungan dengan sifatNya sendiri menurut Markus 19:43-45 dan matius 20:26-28, bahwa Anak Manusia tidak datang untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberi nyawaNya sebagai tebusan bagi banyak orang.
Diakonein sebagai cara hidup jemaat Kristus.
Dengan apa yang kita pahami dari bahasan diatas menjadi jelas maksud dari melayani di dalam jemaat. Setiap karunia atau kharisma menurut I Petrus 4:10 merupakan pemberian yang dipercayakan kepada setiap orang dengan maksud supaya mereka yang mendapat karunia itu memanfaatkannya dan mengunakan karunia yang Tuhan berikan untuk melayani.
Diakonein sebagai mengumpulkan persembahan/ kolekte
Pelayanan khusus yang mempunyai peranan penting di dalam kehidupan Paulus adalah pengumpulan dan penyerahan kolekte bagi orang kudus di Yeruselem.
(2 Kor 8:19). Pelayanan kasih ini adalah teladan sebagaimana orang Kristen saling memperhatikan dan saling membantu berdasarkan kasih Kristus.
Diakonein sebagai nama untuk pelayanan jabatan khusus.
Dalam I Tim 3:10,13 kata kerja Diakonein dipakai untuk nama jabatan seorang syamas/syamaset/diaken.

B.2 Cara Berdiakonia antara lain :
-Diakonia sebagai pertolongan secangkir air atas nama Yesus
Ada berbagai cara orang Kristen atau badan-badan gereja atau lembaga Kristen didalam pelayanan pada sesama. Pelayanan ini merupakaan pengaktaan kasih Kristus. (contoh bagi bahan makanan, pakaian, obat dll). Prinsip motivasinya adalah mendemonstrasikan kasih Kristus dalam perbuatan nyata. Pertolongan ini disebut dengan diakonia kharitatif. Teologia secangkir air itu penting dalam rangka diakonia jemaat tetapi itu hanya salah satu unsur saja dalam berdiakonia. Karena pemahaman diakonia itu punya pengertian yang luas.
Ketaatan dan kerendahan hati gereja yang terdiri dari persekutuan orang percaya hendaknya terwujud dalam pola penatalayanan dan bukan pola tuan melainkan pola hamba, pola melayani. Yesus menghendaki pelayanan kepadaNya terwujud dalam pelayanan kepada orang-orang yang paling hina, terhadap merekalah gereja melayani.
-Diakonia dan Pembangunan
Sisi lain diakonia adalah diakonia social yang berupa upaya untuk membangun masyarakat yang bertanggung jawab. Itu berarti menuntut keterlibatan jemaat dalam pembangunan, jadi diakonia adalah pembangunan. Diakonia berarti sikap kritis kenabian gereja untuk memulihkan dan meluruskan arah pembangunan yang keliru dan mengangkat mereka yang tersisihkan dan terlupakan dalam pembagunan.
Jadi diakonia bukanlah jalan untuk mencapai sukses.Diakonia adalah pelayanan yang berjalan,berbicara, dan berbuat bersama-sama dengan mereka yang hina. Diakonia adalah belajar sambil berbuat di tengah-tengah kehinaan.
Dengan ulasan diatas, kita pun harus mampu untuk memahami tugas panggilan gereja di dalam kehadirannya di dunia ini yakni Koinonia, Marturia dan Diakonia. Ketiganya saling behubungan satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan. Tugas yang satu akan menjadi sempurna ketika berada di dalam keterkaitannya dengan tugas yang lain, begitu juga sebaliknya. Kononia sebagai persekutuan yang hidup harus menjalankan peran marturia dan diakonianya.
Tugas dan panggilan gereja meliputi Koinonia (persekutuan), Marturia (Kesaksian), dan Dikonia (Pelayanan)

Koinonia dari bahasa Yunani akar katanya “koinon” yaitu :
Koinonein artinya bersekutu
Koinonos artinya teman, sekutu
Koinonia artinya persekutuan.

Koinonia sebagai Persekutuan Etis
Ada tiga tugas panggilan gereja di dalam kehadirannya di bumi ini, yakni Marturia, Koinonia dan Diakonia. Ketiganya saling berhubungan satu sama lain di dalam penjelasan praksisnya. Tugas yang satu menjadi sempurna tatkala berada di dalam keterkaitan dengan tugas yang lainnya, begitu juga sebaliknya. Koinonia sebagai persekutuan yang hidup harus menjalankan peran marturia dan diakonianya. Tidak kaku sebatas pada komunitas itu sendiri, dan tidak puas akan kuantitas itu sendiri. Peran penting dalam koinonia yang menyangkut pada 2 hal, yakni kuantitas dan kualitas harus berada dalam kesinergisan.
Menurut Harvey Cox, peran koinonia adalah peran di dalam membangun City of Man. Gambaran Harvey Cox ini menuju kepada sebuah cita-cita yang tidak lagi sekedar persekutuan, melainkan peradaban manusia. Semuanya harus bermula dari membangun komunitas kecil di dalam persaudaraan kasih, sehingga cita-cita ke arah membangun peradaban manusia yang lebih baik dapat terwujud (this world). Inilah impian Harvey Cox tentang koinoniannya.
Untuk membangun koinonia maka berarti kita harus membangun etika Kristen di dalam persekutuan tersebut. Di dalam Alkitab, etika Kristen memang selalu menyorot kepada bentuk etika komunitas atau persekutuan. Alasannya, pertama, etika Kristen selalu diberikan kepada pribadi-pribadi manusia di dalam menyesuaikan diri dengan komunitasnya, kedua etika Kristen diberikan untuk komunitas secara keseluruhan, dan ketiga etika Kristen diberikan untuk membangun komunitas tersebut. Ketika etika Kristen sudah terbangun menjadi pondasi dari persekutuan maka persaudaraan kasih yang menjadi pesan di dalam Alkitab dapat terwujud.
Intinya, etika Kristen tidak hanya terpaku kepada etika personal, tapi di dalamnya ada nilai-nilai moralitas yang membangun untuk menciptakan koinonia yang ideal, bahkan dunia atau peradaban yang lebih baik sesuai impian Harvey Cox, karena nilai-nilai etis bagi Kristiani adalah nilai-nilai yang universal di dalam diri manusia sebagai mahluk sosial.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar